Jumat, 19 Mei 2017

Memahami Makna Cinta Sejati

Memahami Makna Cinta Sejati

Pernahkah anda bertanya, kenapa kita suka dengan anak kecil?
Kita senang melihat kepolosan dan keceriaan yang kita dapatkan dari mereka. Mereka tidak pernah merasa khawatir tentang materi, tidak pernah merasa takut ataupun sedih. Dalam kepolosan, mereka tidak peduli tentang badan atau peranan mereka dalam hidup.

Mereka menjalani hidup apa adanya. Sinar mata yang indah dan polos berasal dari rasa cintanya terhadap kehidupan dan kebahagiaannya. Ini mengingatkan akan kemerdekaan yang dulu juga pernah kita punyai. Dengan mengingat bahwa dulu kita pun pernah menjadi jiwa yang merdeka, kita akan kembali menjadi "merdeka".

Kita bisa menyerap dari sumber cinta, kearifan dan kebahagiaan tak terbatas ketika kita kita berhenti mencari hal-hal ini di dunia luar. Mulailah menjaga dan memperhatikan dunia yang di dalam.

Kita harus menyadari pentingnya hal ini dan kemudian menggunakan intelektual kita untuk bersungguh-sungguh mengalihkan pikiran dari dunia luar dan lebih banyak masuk ke dalam.

Kita akan terkenang dengan seseorang sewaktu ia jauh dari dari kita. Jauh atau dekat, pikiran atau kesadaran kita tertuju pada orang atau subjek tersebut untuk memperbarui hubungan. Kita harus berkonsentrasi penuh dan mengalihkan hal-hal lainnya dari intelek kita.

Demikianlah cara kita mengingat Tuhan. Untuk "menuju dengan tepat ke arah" Tuhan, kita harus mengalihkan perhatian dari dunia fisik. Sebuah pepatah India menyatakan "Kita tak bisa menyandangkan dua pedang dalam satu sarung". Jadi, dengan masuk ke dalam, kita menarik pikiran dari dunia luar, termasuk dari badan dan lebih memusatkannya pada jati diri spiritual di dalam.

Saya mengandaikan sari dari jati diri ini sebagai suatu titik atau bintang, tanpa dimensi ruang dan waktu, terletak di belakang mata yang merupakan pusat kesadaran. Ini dikenal dengan mata ketiga. Membuka mata ketiga ini seperti membuka jendela ke dunia lain. Meskipun tetap berada dalam badan fisik, saya mampu membawa pikiran ke tempat yang jauh, di luar alam fisik.

Saya merasakan alam transeden, dan kemudian memasuki kawasan kedamaian. Saya paham, kawasan ini adalah rumah saya yang sebenarnya, dan juga rumah Tuhan. Saya yakin bahwa Tuhan juga sebagai suatu titik atau bintang, bersinar cemerlang dengan kekuatan kebenaran, tanpa batas dan abadi.

Saat kesadaran saya mencapai babak kesadaran tanpa badan, barulah saya bisa memulai hubungan dengan Tuhan. Ini membawa saya ke tingkat energi yang lebih tinggi lagi. Setiap kali saya mengingat Tuhan, hubungan ini semakin dalam. Ini adalah penemuan yang indah, saya bisa bertemu Jiwa Agung setiap saat yang saya inginkan, di dalam diri saya.

Ketika saya punya hubungan baik dengan seseorang, saya pasti akan menerima kerja sama darinya. Sewaktu saya menyisihkan semua hubungan duniawi, saya mengalami sifat dan kekuatan Tuhan. Saya bisa mendapat kekuatan energi kebenaran yang juga merupakan kebenaran saya.

Dan saat kembali ke tugas dan tanggung jawab di dunia fisik setelah mengisi kekuatan, saya merasa dengan mudah dan alami memiliki kerangka pikiran positif. Karena telah menerima kekuatan di dalam diri, tindakan-tindakan saya sekarang lebih kuat. Dan ini membawa manfaat bagi orang lain pula.

Apabila menjumpai atau menerima sesuatu yang palsu, ia hanya akan menarik di permukaan saja.

Padahal setiap hari kita jatuh cinta dengan sesuatu yang palsu. Sehari-hari, kita banyak berinteraksi dengan kepalsuan, selalu ada pamrih. Kita bekerja untuk mendapatkan pujian atau kenaikan jabatan, dan bukan untuk memberikan pelayanan.

Karena keterikatan atau keinginan, akhirnya kita berusaha untuk menguasai orang lain, atau bahkan membiarkan orang lain menguasai kita. Anehnya, kadang kita menganggap hal itu adalah ungkapan cinta. Sadarilah bahwa kita telah menipu diri sendiri dan juga orang lain. Maka, dapat kita saksikan banyak hubungan yang harus berakhir dengan pertengkaran.

SOLUSINYA

Agar bisa keluar dari semua itu, kita harus bertekad untuk tidak memiliki kepalsuan dalam hidup. Kita harus menghentikan kebohongan dalam diri kita dan juga dalam berinteraksi dengan orang lain. Semua hal yang tidak benar dalam diri kita harus hilang. Sejalan dengan hubungan dengan Tuhan yang semakin mendalam, nilainya semakin tinggi.

Ini adalah satu-satunya hubungan yang nyata dan hidup. Kita akan mulai memahami makna dari cinta sejati sebagai sebuah kondisi dan bukan keinginan. Kita mulai memahami perbedaan antara kebenaran dan kepalsuan. Satu-satunya keinginan yang tersisa hanyalah bersikap lurus di dalam menuju kebenaran hakiki. Keinginan tersebut laksana api yang menyala, semakin lama semakin membesar, menyucikan jiwa dan menghilangkan noda-noda negatif.

Dalam hubungan saya dengan Tuhan, Tuhanlah yang bekerja. DIA bagaikan pande besi yang menghilangkan kerak logam dari jiwa.

Satu-satunya pikiran yang masuk adalah yang suci dan bermanfaat, yaitu pikiran tentang cinta, damai, pengampunan dan kasih sayang.

Jumat, 12 Mei 2017

Mengenal Diri Agar Kita Bisa Merdeka

Mengenal Diri Agar Kita Bisa Merdeka
Mengenal Diri Agar Kita Bisa Merdeka

Marilah kita mengenal diri kita sesungguhnya. 

Kita paham bahwa sumber energi tersedia untuk kita. Ia terpisah dari kita, dan karenanya ia bisa mengalir. Dengan sifat manusia yang unik, kita bisa menerima dan membagi energi dari Tuhan ini. Kita bisa melihatnya dalam 3 tingkatan atau derajat intensitas dalam diri kita sendiri. Hal tersebut berkaitan dengan tiga tahap perjalanan kita untuk kembali pada kebenaran.


Tingkat pertama, adalah mengingat Tuhan dan ini berarti melangkah dengan cinta ke arah-Nya. Sebuah perjalanan pulang, kembali. Tuhan bukan sebuah misteri besar. Kita semua telah mengenal-Nya bukan? Tetapi kita melupakan-Nya.

Tingkat kedua, adalah berhubungan dengan Tuhan. Tingkatan ini mulai saya kembangkan sewaktu saya mulai berkonsentrasi pada hal yang bersifat non-fisik. dan lebih pada keadaan fikiran. Tahapan ini disebut kesadaran jiwa. Saya mulai merasakan energi cinta Tuhan bekerja dalam hidup saya.

Tingkat ketiga, tercapai jika telah terjadi hubungan yang lebih mendalam dengan Tuhan. Tingkatan ini membutuhkan kelengkapan penuh pada jiwa dan juga kekuatan.

Sebagai manusia, kita mempunyai kemampuan "intelek" yang memungkinkan kita membuat sebuah pilihan tentang bagaimana cara kita mengarahkan pikiran dan perasaan kita, dan pada akhirnya mengantarkan kita ke suatu arah tertentu. Banyak orang ingin mengingat Tuhan. Tetapi yang terjadi justru rasa frustasi, karena pikiran dan intelek mereka terjebak di tempat lain. Mereka tidak mengenal diri.

Intelek mereka telah terbiasa mengingat berbagai macam hal yang bersifat duniawi. Kebiasaan ini akan menjerumuskan pikiran dalam hubungan dan keterkaitan dengan hal-hal fisik dan pada akhirnya justru terperangkap di dalamnya. Tapi ini bukanlah akar penyebab masalah kita. Dunia fisik sendiri bukanlah sebuah masalah. Ia adalah panggung indah, tempat drama kehidupan dimainkan.

Celakanya, kita sepertinya terlalu masuk dalam permainan dan peranan kita dalam drama ini. Kita lupa bahwa kita hanyalah seorang "pemain" di panggung. Akhirnya kita menjauh dari kebenaran tentang siapa diri kita sebenarnya.

Kita harus mendidik pikiran dan intelek untuk berjalan kesana kemari di "luar" dan mengandalkan materi untuk memperoleh tujuan dan arah yang benar. Kita memang sudah terbiasa memperoleh kenyamanan dari materi sampai-sampai kita lupa bahwa materi-materi tersebut hanya bersifat sementara. Dunia materi akan selalu berubah-ubah.

Kadang-kadang, perasaan "milikku" atau "badanku" menguasai saya. Dengan begitu, kita akan tertekan apabila kehilangan kekayaan atau jatuh sakit. Hal tersebut berarti kesadaran jati diri kita belum tertanam. Kadang kita juga punya perasaan memiliki terhadap orang lain. Ini "kawanku", "saudaraku", dan juga "musuhku". Perasaan seperti "milikku" tersebut membuat kita seolah-olah kita sedang berusaha mengikat diri kita dengan dunia di luar kita supaya kita bisa mengendalikannya. Padahal sebenarnya justru kita telah memerangkap diri untuk menderita. Hal ini sama saja dengan menyerahkan kemerdekaan kita. Mulailah mengenal diri.

Kita tidak bisa lagi mengenal diri kita yang sebenarnya, yaitu jadi diri yang ada di dalam, dan Tuhan Yang Maha Esa, yang bisa dikatakan sebagai milik kita selamanya. Energi, kekuatan dan martabat diri kita telah hilang.

Selama kesadaran kita terperangkap di dalam badan dan hubungan fisik, kita tidak akan pernah merasakan kemerdekaan yang menjadi hak kita. Akibatnya, kita tidak bisa menunaikan tanggung jawab kita pada orang lain.

Rabu, 10 Mei 2017

Langkah-Langkah Mencapai Kesadaran Suci

Langkah-Langkah Mencapai Kesadaran Suci
Langkah-Langkah Mencapai Kesadaran Suci

Kita harus sadar! Kita harus bangkit bukan saja dari pikiran-pikiran negatif tetapi juga dari pikiran-pikiran biasa yang sia-sia. Karena pikiran-pikiran tersebut merusak kedamaian yang kita butuhkan untuk menyerap energi dan menerima kekuatan dari Tuhan.


Kita lihat!

Permukaan danau yang beriak tidak bisa memantulkan pemandangan bukit dan langit. Yang kita lihat hanya riak dan gelombang danau. Air terlihat keruh. Namun, jika permukaan danau itu tenang, kita bisa melihat kedalamannya.

Demikian juga dengan kita. Kualitas pikiran kitalah yang akan menentukan apakah kita mampu mencintai atau tertarik pada diri kita yang ada di dalam dan juga mencintai Tuhan. Pastikan pikiran kita harus tenang dan suci, meskipun hanya sementara.

Proses kesadaran tentang sifat asli dari diri dan Tuhan bisa diumpamakan dengan proses menyalakan lampu kedip/templok. Anda memerlukan sumbu lampu yang bersih, dan minyak tentu saja. Kemudian setelah api menyala, anda harus melindunginya dari hembusan angin. Saat api menyala, sumbu akan terbakar dan minyak akan terserap.

Sumbu itu adalah kebersihan dalam diri kita. Bersihkan pikiran dan perasaan kita. Hilangkan seluruh rasa sakit atau rasa tidak nyaman yang anda rasakan di masa lampau. Paling tidak lakukan itu hingga api mulai menyala. Rasa khawatir dan keinginan anda tentang masa depan juga harus dihilangkan.

Demikian pula, jangan berpikir tentang orang lain. Kebiasaan membandingkan, rasa iri dan menyalahkan orang lain akan mengacaukan emosi dan ini akan membuat api sulit menyala. Ingat! Yang diperlukan adalah diam, tenang, jauh dari konflik dan kebingungan.

Langkah berikutnya adalah menarik pikiran dan perasaan positif seperti rasa damai, bahagia, menerima dan berbaik hati. Ini diibaratkan seperti minyak bagi lampu tersebut. Ia menciptakan hubungan dengan Tuhan. Karena ini adalah sifat-sifat Tuhan.

Setelah selesai melakukan hal-hal di atas, saatnya menyalakan lampu. Menyalakan lampu di dalam diri dengan api cinta. Hal ini akan berjalan secara otomatis, jika jarak antara anda dan Tuhan semakin dekat. Kemudian energi mengalir. Ini adalah hal yang menakjubkan!

Selama ini ia telah hilang dari hidup kita. Energi cinta inilah yang membuat apa yang ada di dalam kita mengalir keluar. Seperti lampu kedip tadi. Ia akan mencegah hal-hal negatif masuk ke dalam. Hal-hal negatif yang akan menguras rasa damai dan kekuatan diri kita.

Kita harus merasa bahwa Tuhan bersama kita. DIA adalah kawan, sehingga kita memiliki seluruh cinta dan pengertian yang kita butuhkan. Cinta yang laksana minyak dan akan membuat lampu terus menyala, mempendarkan cahaya yang terang. Cahaya tersebut akan terlihat pada pada mata, wajah dan seluruh tindakan kita. Akhirnya ia akan mampu menerangi orang lain.

Perasaan yang saya alamai adalah hal yang biasa. Ini bukan pengalaman supernatural atau mistik. Oleh para cendekiawan pengalaman ini disebut kesadaran yang suci. Memang ada hal-hal yang menakjubkan saat bagaimana ia bertransformasi.

With Love -- Dadi Janki

Selasa, 09 Mei 2017

Bagaimana Membuang Perasaan Negatif Yang Melemahkan Kita

Bagaimana Membuang Perasaan Negatif Yang Melemahkan Kita
Bagaimana Membuang Perasaan Negatif Yang Melemahkan Kita

Pikiran dan perasaan khawatir, takut dan sedih sama sekali tidak ada gunanya. Mereka melemahkan kita dan tidak bisa membantu kita untuk menemukan jalan keluar dari masalah-msalah kita. Malah merekalah yang menjadi masalah. Bila kita memiliki kekuatan untuk menangani masalah dengan tenang, sudah tidak ada masalah lagi. Tetapi pertanyaan kemudian muncul adalah "Bagaimana kita dapat membuang pikiran dan perasaan tersebut?".

Bukankah mereka merupakan bagian dari kondisi manusia?

Bagaimana kita tetap bisa berperasaan positif padahal di dunia ini begitu banyak hal yang tidak pada tempatnya - termasuk kita sendiri?

Memang betul, bila kita lemah kita tidak bisa melakukan apaun terhadap perasaan-perasaan negatif tersebut. Mereka menguasai kita. Tetapi, mereka menyebar kemana-mana, tetapi itu bukanlah sifat asli kita.

Sebenarnya, masing-masing dari kita secara alami kuat. Kekuatan dari dalam ini hampir mirip dengan peribahasa Perancis jioe de vivre (kebahagiaan hidup, baca maknanya disini). Ini merujuk pada jati diri yang dipenuhi dengan energi pikiran dan perasaan positif serta mampu untuk merawat dan memanfaatkannya dengan efektif serta mengisinya kembali dari sumber mata air dari diri. Dalam keadaan ini, kita merasakan cinta untuk diri sendiri, orang lain dan kehidupan.

Jika kita mulai berpikir secara positif, kita sedang mengisi kekuatan. Rasa percaya diri dan efektifitas meningkat. Tetapi sewaktu kita membiarkan pikiran negatif masuk, seolah-olah jiwa mulai bocor. Pada saat-saat muncul pikiran negatif, misalnya kita bersikap sinis terhadap orang lain, ketahuilah bahwa sebenarnya kita sedang mengalami penurunan kekuatan. Karena kita tidak bisa menjadi positif dan negatif secara bersamaan.

Apabila kita tergelincir pada rasa ragu dan kritis yang berkepanjangan, baik mengenai diri sendiri atau orang lain, kekuatan kita di dalam sedang terkuras. Pikiran dan perasaan negatif akan membawa kita pada kekacauan, kebingungan dan tertekan. Kita tidak tahu apa yang harus dilakukan. Kita seperti orang asing di dunia tanpa teman dan tujuan.

Pada saat itu mustinya kita dengan segera dapat menyadari "Pikiran dan perasaan negatif ini akan membawa saya kemana?"

Pikiran dan perasaan negatif ini benar-benar akan menghancurkan saya?

Ini adalah kesadaran yang menyakitkan!

Tetapi inilah langkah pertama menuju ke tahap kekuatan!



Minggu, 07 Mei 2017

Cara Menghilangkan Rasa Takut

Cara Menghilangkan Rasa Takut
Cara Menghilangkan Rasa Takut

Sering merasa takut? Khawatir entah dengan sebab atau tanpa sebab?

Bagaimana Cara menghilangkan rasa takut atau khawatir tersebut?

Sekarang ini orang cenderung banyak berpikir. Untuk hal-hal bermanfaat mereka berkata, "Saya akan mempertimbangkannya". Tetapi untuk hal-hal yang tidak berguna yang seharusnya tidak mereka lakukan, mereka berpikir terus menerus. Sungguh tidak ada gunanya membiarkan diri kita tidak bahagia.

Ingat : Kesedihan adalah kurang pengertian!

Mereka yang berpikiran negatif akan merasa khawatir. Berpikir dan berbuatlah yang baik-baik. Apa yang anda pikirkan akan terlihat pada wajah anda.

Apakah anda bisa menyembunyikannya?

Mengapa anda harus khawatir atau takut? Berbuatlah yang baik, hasilnya akan baik pula. Jika anda berpikir yang baik-baik, akan terjadi hal yang baik-baik pula. Jika belum-belum anda sudah ragu, bagaimana anda bisa mengharap hasil yang baik?

Mengapa orang tak mampu berbuat baik?

Mereka telah berbuat dua kesalahan. Mereka mengingat masa lampau dan mereka melihat orang lain dan melihat bagaimana orang lain tersebut melihatnya. Sebelum memulai sesuatu, mereka khawatir tentang bagaimana pendapat orang lain.

Hal-hal dari masa lampau dan hal-hal mengenai orang lain akan menghalangi anda untuk berbuat baik.

"Ini seperti itu dan itu seperti ini".

Sikap seperti ini hanya membuang waktu dan cenderung menguras energi. Energi akan timbul dari rasa damai dan bahagia. Pikiran kritis dan takut terhadap orang lain timbul dari kurangnya rasa hormat diri. Mereka yang takut pada orang lain sebenarnya takut pada diri sendiri. Mereka menjadi gugup. Tidak ada lagi kekuatan di dalam.

Saya tidak gugup. Jadi mengapa anda gugup? Jadilah kuat dan tidak ada satupun yang bisa mengguncang anda. Bahkan orang yang akan mengguncang anda malahan ketularan menjadi kuat. Masalahnya sederhana. Jadilah kuat, apapun yang menimpa anda, anda tidak akan hancur.

Bom kedamaian jauh lebuh kuat dari pada bom atom. Kita punya banyak bahan untuk membuat bom tersebut. Kalau saja 100.000 orang membuat bom kedamaian, mereka akan mampu menghasilkan vibrasi yang begitu indah sehingga orang akan lupa pada kekhawatiran dan ketakutan mereka, sdan senyum mereka pun akan mekar. Anda mengkhawatirkan anak, Anda mengkhawatirkan orang tua. Janganlah anda khawatir tentang siapapun. Jadilah seperti anggota pemadam kebakaran yang akan datang sewaktu timbul kebakaran untuk memadamkannya.

Kamis, 04 Mei 2017

Cara Meraih Kedamaian : Masuk Ke Dalam Diri

Cara Meraih Kedamaian : Masuk Ke Dalam Diri
Cara Meraih Kedamaian : Masuk Ke Dalam Diri

Banyak orang berpendapat bahwa hanya dengan meninggalkan keluarga dan kemudian masuk ke dalam hutan atau puncak gunung, mereka bisa lepas dari rasa khawatir dan sedih. Tetapi, kemerdekaan yang penuh bukanlah seperti itu. Yang harus dilakukan adalah masuk ke dalam diri. Ya, kunci kedamaian hati adalah masuk ke dalam diri.


Inilah yang kita butuhkan, yaitu upaya spiritual. Jiwa terperangkap ke badan. Ia terperangkap oleh berbagai hubungan. Kalau kita masuk ke dalam jati diri kita, kita akan mampu mengumpulkan energi spiritual yang akan menemani kita menjalani kehidupan ini, tanpa rasa takut.

Dalam hidup, saya tidak pernah membiarkan diri saya merasa takut, tetapi yang saya lakukan adalah membantu orang lain dengan rasa damai pada saat-saat krisis. Saya telah mengalami berbagai macam situasi sulit, seperti sakit atau kesulitan dana, tetapi saya tidak bingung, takut ataupun cemas.

Saya tidak mempunyai pendidikan tinggi (saya hanya pernah bersekolah selama tiga tahun saja), tetapi saya tetap bisa dalam rasa damai dan memberikan perasaan ini kepada orang lain. Paling tidak saya bisa merangkul orang lain dengan kehangatan cinta.

Ketika orang merasa takut, kepada siapa mereka mengadu?

Ketika mereka merasa khawatir tentang apa yang akan terjadi pada anak-anak mereka, apa yang mereka lakukan?

Mereka tidak bisa memohon pertolongan dari Tuhan, mereka tidak bisa menolong diri sendiri, apalagi membantu orang lain.

Oleh karena itu bebaskan pikiran anda dari pemikiran seperti ini.

Kekuatan untuk tetap merasa damai ini diperoleh dari perbuatan-perbuatan tulus yang dilakukan dengan tingkatan intelek yang tinggi - yaitu dengan pengertian. Tergantung kepada orang lain atau membuat seseorang tergantung kepada kita adalah perbuatan orang yang lemah.

Adalah tugas saya untuk bersikap menolong serta jujur supaya saya dapat selalu selaras dengan orang lain - dan juga untuk selalu dermawan. Ada yang berpendapat bahwa tugas atau tanggung jawab adalah beban.

Padahal saya malahan menjadi lebih ringan!

Apa tanggung jawab saya?

Untuk memberikan senyum, tetap merasa damai dan menyegarkan getaran dari hati saya, melalui perilaku dan pendapat saya.

Apakah ada seseorang yang tidak mempunyai tanggung jawab ini?

Saya selalu mengatakan kepada orang lain, "Jangan banyak bermuram durja".

Jangan biarkan wajahmu kelihatan lelah. Lebih baik bersikap ceria.

Siapa yang bisa melakukannya?

Mereka yang kuat dari dalam.

Apakah hal ini mungkin?

Apakah kesedihan, ketakutan dan kekhawatiran anda sudah hilang?

Jika anda merasa damai sewaktu membaca tulisan ini, anda akan memahami maknsa dari altruisme dan kedermawanan. Bacalah terus, tetapi tidak usah berpikir. Saya ingin berbagi dengan anda mengenai hal-hal yang bisa anda serap.

Terima saja dan biarkan tersaring ke dalam sanubari Anda.

Dadi Janki

Senin, 01 Mei 2017

Bagaimana Mencapai Kedamaian Hakiki

Bagaimana Mencapai Kedamaian Hakiki
Bagaimana Mencapai Kedamaian Hakiki

Dalam hidup saya, saya telah membuat komitmen, "saya tidak akan merasa sedih atau khawatir mengenai seseorang atau sesuatu". Saya juga tidak akan membiarkan orang lain mempunyai perasaan tersebut terhadap saya. Saya tidak akan takut kepada siapapun dan juga tidak akan membuat orang lain takut.

Saya akan memberi kerja sama dengan cinta, dan saya akan menolong kapan saja diperlukan. Bahkan jika orang lain tidak memberi saya cinta, saya tidak akan rugi apapun untuk memberinya cinta. Kalau orang lain tidak menaruh hormat pada saya, saya tidak akan membalasnya dengan tidak menghormatinya. Saya merasa tidak sepatutnya bahkan untuk mempunyai pikiran untuk tidak menghormati orang lain meskipun pada orang yang tidak menaruh hormat pada saya ataupun yang merupakan kendala bagi saya. Saya berada dalam perjalanan spiritual dan saya akan menemui berbagai situasi.

Tugas saya adalah tetap melangkah pada jalan saya dan tidak menganggu orang lain.
Ketika sebuah pesawat sedang terbang, perjalanan kadang terhalang oleh awan tebal, tetapi pilot tidak akan bertanya mengapa ada awan, yang ia tahu adalah ia harus tetap menembusnya.
Kemudian ada pengumuman, penumpang harus mengenakan sabuk pengaman karena ada angin ribut, anda tidak perlu membuat angin ribut sendiri dalam kepala, was-was kalau-kalau pesawat akan jatuh.

Ini jelas tidak masuk akal!

Dengan keyakinan penuh terhadap pesawat dan pilot, kita tetap merasa tenang. Awak kabin merasa senang karena kita tidak menciptakan rasa takut yang kemungkinan akan menyebar di antara penumpang.

Dengan rasa tentram dan yakin, ciptakan suasana penuh cinta sehingga masalah apapun yang datang, ia akan pergi sendiri. Hal ini seperti selalu dikisahkan pada cerita-cerita lama, "Dan ia akan berlalu..."
Apa yang memberikan kestabilan ini?

Kita tentu pernah melihat menara yang menjulang tinggi ke langit, ia memiliki pondasi yang dalam. Begitu pula kita, kita harus mempunyai pondasi ke dalam yang kuat. Hal ini akan membuat kita kuat sehingga meskipun dunia berubah-ubah, kita tetap stabil.

Kekuatan ini datang dari dalam, dari jati diri kita yang di dalam. Jika motif tindakan kita adalah suci dan positif serta didasarkan pada cinta dan kebenaran, kekuatan kedamaian akan dengan sendirinya muncul.

Kebenaran adalah lebih dari sekedar informasi yang kita pikir, bicarakan dan tuliskan. Ia adalah kekuatan untuk tetap diam dan damai. Bahkan berpikirpun tidak. Juga tidak mendengarkan.
Tetapi kita memegangi inti dari jati diri kita, yaitu sifat-sifat manusiawi kita supaya tetap berada di dalam intelek dan kesadaran kita. Menerima apapun yang terjadi, baik di dalam maupun di luar, bagaikan samudera menerima aliran sungai, maka akan timbul rasa damai.

Sebenarnya kekuatan untuk tetap berada dalam rasa damai sudah ada dalam diri kita.

Sekarang saya tengah berbicara, tetapi di dalam, saya tetap merasa damai. Seluruh napas, pikiran dan waktu saya harus terisi dengan kedamaian dan kestabilan sehingga siapa pun yang datang mereka akan menemui saya dalam keadaan senang hati untuk membantu. Sauasana damai akan muncul. Hal ini sangat bermanfaat bagi diri saya sendiri.

Kita tidak perlu selalu mengingat atau berbicara tentang kejadian-kejadian menyedihkan yang terjadi di masa lampau. Demikian pula tidak ada gunanya untuk menyebarkan berita-berita sedemikian rupa sehingga akan menimbulkan rasa takut dan tegang. Kalau saya merasa takut, saya tidak akan bisa lagi melakukan appaun yang bermanfaat.

Dadi Janki