![]() |
| Mengenal Diri Agar Kita Bisa Merdeka |
Marilah kita mengenal diri kita sesungguhnya.
Kita paham bahwa sumber energi tersedia untuk kita. Ia terpisah dari kita, dan karenanya ia bisa mengalir. Dengan sifat manusia yang unik, kita bisa menerima dan membagi energi dari Tuhan ini. Kita bisa melihatnya dalam 3 tingkatan atau derajat intensitas dalam diri kita sendiri. Hal tersebut berkaitan dengan tiga tahap perjalanan kita untuk kembali pada kebenaran.
Tingkat pertama, adalah mengingat Tuhan dan ini berarti melangkah dengan cinta ke arah-Nya. Sebuah perjalanan pulang, kembali. Tuhan bukan sebuah misteri besar. Kita semua telah mengenal-Nya bukan? Tetapi kita melupakan-Nya.
Tingkat kedua, adalah berhubungan dengan Tuhan. Tingkatan ini mulai saya kembangkan sewaktu saya mulai berkonsentrasi pada hal yang bersifat non-fisik. dan lebih pada keadaan fikiran. Tahapan ini disebut kesadaran jiwa. Saya mulai merasakan energi cinta Tuhan bekerja dalam hidup saya.
Tingkat ketiga, tercapai jika telah terjadi hubungan yang lebih mendalam dengan Tuhan. Tingkatan ini membutuhkan kelengkapan penuh pada jiwa dan juga kekuatan.
Sebagai manusia, kita mempunyai kemampuan "intelek" yang memungkinkan kita membuat sebuah pilihan tentang bagaimana cara kita mengarahkan pikiran dan perasaan kita, dan pada akhirnya mengantarkan kita ke suatu arah tertentu. Banyak orang ingin mengingat Tuhan. Tetapi yang terjadi justru rasa frustasi, karena pikiran dan intelek mereka terjebak di tempat lain. Mereka tidak mengenal diri.
Intelek mereka telah terbiasa mengingat berbagai macam hal yang bersifat duniawi. Kebiasaan ini akan menjerumuskan pikiran dalam hubungan dan keterkaitan dengan hal-hal fisik dan pada akhirnya justru terperangkap di dalamnya. Tapi ini bukanlah akar penyebab masalah kita. Dunia fisik sendiri bukanlah sebuah masalah. Ia adalah panggung indah, tempat drama kehidupan dimainkan.
Celakanya, kita sepertinya terlalu masuk dalam permainan dan peranan kita dalam drama ini. Kita lupa bahwa kita hanyalah seorang "pemain" di panggung. Akhirnya kita menjauh dari kebenaran tentang siapa diri kita sebenarnya.
Kita harus mendidik pikiran dan intelek untuk berjalan kesana kemari di "luar" dan mengandalkan materi untuk memperoleh tujuan dan arah yang benar. Kita memang sudah terbiasa memperoleh kenyamanan dari materi sampai-sampai kita lupa bahwa materi-materi tersebut hanya bersifat sementara. Dunia materi akan selalu berubah-ubah.
Kadang-kadang, perasaan "milikku" atau "badanku" menguasai saya. Dengan begitu, kita akan tertekan apabila kehilangan kekayaan atau jatuh sakit. Hal tersebut berarti kesadaran jati diri kita belum tertanam. Kadang kita juga punya perasaan memiliki terhadap orang lain. Ini "kawanku", "saudaraku", dan juga "musuhku". Perasaan seperti "milikku" tersebut membuat kita seolah-olah kita sedang berusaha mengikat diri kita dengan dunia di luar kita supaya kita bisa mengendalikannya. Padahal sebenarnya justru kita telah memerangkap diri untuk menderita. Hal ini sama saja dengan menyerahkan kemerdekaan kita. Mulailah mengenal diri.
Kita tidak bisa lagi mengenal diri kita yang sebenarnya, yaitu jadi diri yang ada di dalam, dan Tuhan Yang Maha Esa, yang bisa dikatakan sebagai milik kita selamanya. Energi, kekuatan dan martabat diri kita telah hilang.
Selama kesadaran kita terperangkap di dalam badan dan hubungan fisik, kita tidak akan pernah merasakan kemerdekaan yang menjadi hak kita. Akibatnya, kita tidak bisa menunaikan tanggung jawab kita pada orang lain.

EmoticonEmoticon