Pernahkah anda bertanya, kenapa kita suka dengan anak kecil?
Kita senang melihat kepolosan dan keceriaan yang kita dapatkan dari mereka. Mereka tidak pernah merasa khawatir tentang materi, tidak pernah merasa takut ataupun sedih. Dalam kepolosan, mereka tidak peduli tentang badan atau peranan mereka dalam hidup.
Mereka menjalani hidup apa adanya. Sinar mata yang indah dan polos berasal dari rasa cintanya terhadap kehidupan dan kebahagiaannya. Ini mengingatkan akan kemerdekaan yang dulu juga pernah kita punyai. Dengan mengingat bahwa dulu kita pun pernah menjadi jiwa yang merdeka, kita akan kembali menjadi "merdeka".
Kita bisa menyerap dari sumber cinta, kearifan dan kebahagiaan tak terbatas ketika kita kita berhenti mencari hal-hal ini di dunia luar. Mulailah menjaga dan memperhatikan dunia yang di dalam.
Kita harus menyadari pentingnya hal ini dan kemudian menggunakan intelektual kita untuk bersungguh-sungguh mengalihkan pikiran dari dunia luar dan lebih banyak masuk ke dalam.
Kita akan terkenang dengan seseorang sewaktu ia jauh dari dari kita. Jauh atau dekat, pikiran atau kesadaran kita tertuju pada orang atau subjek tersebut untuk memperbarui hubungan. Kita harus berkonsentrasi penuh dan mengalihkan hal-hal lainnya dari intelek kita.
Demikianlah cara kita mengingat Tuhan. Untuk "menuju dengan tepat ke arah" Tuhan, kita harus mengalihkan perhatian dari dunia fisik. Sebuah pepatah India menyatakan "Kita tak bisa menyandangkan dua pedang dalam satu sarung". Jadi, dengan masuk ke dalam, kita menarik pikiran dari dunia luar, termasuk dari badan dan lebih memusatkannya pada jati diri spiritual di dalam.
Saya mengandaikan sari dari jati diri ini sebagai suatu titik atau bintang, tanpa dimensi ruang dan waktu, terletak di belakang mata yang merupakan pusat kesadaran. Ini dikenal dengan mata ketiga. Membuka mata ketiga ini seperti membuka jendela ke dunia lain. Meskipun tetap berada dalam badan fisik, saya mampu membawa pikiran ke tempat yang jauh, di luar alam fisik.
Saya merasakan alam transeden, dan kemudian memasuki kawasan kedamaian. Saya paham, kawasan ini adalah rumah saya yang sebenarnya, dan juga rumah Tuhan. Saya yakin bahwa Tuhan juga sebagai suatu titik atau bintang, bersinar cemerlang dengan kekuatan kebenaran, tanpa batas dan abadi.
Saat kesadaran saya mencapai babak kesadaran tanpa badan, barulah saya bisa memulai hubungan dengan Tuhan. Ini membawa saya ke tingkat energi yang lebih tinggi lagi. Setiap kali saya mengingat Tuhan, hubungan ini semakin dalam. Ini adalah penemuan yang indah, saya bisa bertemu Jiwa Agung setiap saat yang saya inginkan, di dalam diri saya.
Ketika saya punya hubungan baik dengan seseorang, saya pasti akan menerima kerja sama darinya. Sewaktu saya menyisihkan semua hubungan duniawi, saya mengalami sifat dan kekuatan Tuhan. Saya bisa mendapat kekuatan energi kebenaran yang juga merupakan kebenaran saya.
Dan saat kembali ke tugas dan tanggung jawab di dunia fisik setelah mengisi kekuatan, saya merasa dengan mudah dan alami memiliki kerangka pikiran positif. Karena telah menerima kekuatan di dalam diri, tindakan-tindakan saya sekarang lebih kuat. Dan ini membawa manfaat bagi orang lain pula.
Apabila menjumpai atau menerima sesuatu yang palsu, ia hanya akan menarik di permukaan saja.
Padahal setiap hari kita jatuh cinta dengan sesuatu yang palsu. Sehari-hari, kita banyak berinteraksi dengan kepalsuan, selalu ada pamrih. Kita bekerja untuk mendapatkan pujian atau kenaikan jabatan, dan bukan untuk memberikan pelayanan.
Karena keterikatan atau keinginan, akhirnya kita berusaha untuk menguasai orang lain, atau bahkan membiarkan orang lain menguasai kita. Anehnya, kadang kita menganggap hal itu adalah ungkapan cinta. Sadarilah bahwa kita telah menipu diri sendiri dan juga orang lain. Maka, dapat kita saksikan banyak hubungan yang harus berakhir dengan pertengkaran.
SOLUSINYA
Agar bisa keluar dari semua itu, kita harus bertekad untuk tidak memiliki kepalsuan dalam hidup. Kita harus menghentikan kebohongan dalam diri kita dan juga dalam berinteraksi dengan orang lain. Semua hal yang tidak benar dalam diri kita harus hilang. Sejalan dengan hubungan dengan Tuhan yang semakin mendalam, nilainya semakin tinggi.
Ini adalah satu-satunya hubungan yang nyata dan hidup. Kita akan mulai memahami makna dari cinta sejati sebagai sebuah kondisi dan bukan keinginan. Kita mulai memahami perbedaan antara kebenaran dan kepalsuan. Satu-satunya keinginan yang tersisa hanyalah bersikap lurus di dalam menuju kebenaran hakiki. Keinginan tersebut laksana api yang menyala, semakin lama semakin membesar, menyucikan jiwa dan menghilangkan noda-noda negatif.
Dalam hubungan saya dengan Tuhan, Tuhanlah yang bekerja. DIA bagaikan pande besi yang menghilangkan kerak logam dari jiwa.
Satu-satunya pikiran yang masuk adalah yang suci dan bermanfaat, yaitu pikiran tentang cinta, damai, pengampunan dan kasih sayang.

EmoticonEmoticon