Senin, 01 Mei 2017

Bagaimana Mencapai Kedamaian Hakiki

Bagaimana Mencapai Kedamaian Hakiki
Bagaimana Mencapai Kedamaian Hakiki

Dalam hidup saya, saya telah membuat komitmen, "saya tidak akan merasa sedih atau khawatir mengenai seseorang atau sesuatu". Saya juga tidak akan membiarkan orang lain mempunyai perasaan tersebut terhadap saya. Saya tidak akan takut kepada siapapun dan juga tidak akan membuat orang lain takut.

Saya akan memberi kerja sama dengan cinta, dan saya akan menolong kapan saja diperlukan. Bahkan jika orang lain tidak memberi saya cinta, saya tidak akan rugi apapun untuk memberinya cinta. Kalau orang lain tidak menaruh hormat pada saya, saya tidak akan membalasnya dengan tidak menghormatinya. Saya merasa tidak sepatutnya bahkan untuk mempunyai pikiran untuk tidak menghormati orang lain meskipun pada orang yang tidak menaruh hormat pada saya ataupun yang merupakan kendala bagi saya. Saya berada dalam perjalanan spiritual dan saya akan menemui berbagai situasi.

Tugas saya adalah tetap melangkah pada jalan saya dan tidak menganggu orang lain.
Ketika sebuah pesawat sedang terbang, perjalanan kadang terhalang oleh awan tebal, tetapi pilot tidak akan bertanya mengapa ada awan, yang ia tahu adalah ia harus tetap menembusnya.
Kemudian ada pengumuman, penumpang harus mengenakan sabuk pengaman karena ada angin ribut, anda tidak perlu membuat angin ribut sendiri dalam kepala, was-was kalau-kalau pesawat akan jatuh.

Ini jelas tidak masuk akal!

Dengan keyakinan penuh terhadap pesawat dan pilot, kita tetap merasa tenang. Awak kabin merasa senang karena kita tidak menciptakan rasa takut yang kemungkinan akan menyebar di antara penumpang.

Dengan rasa tentram dan yakin, ciptakan suasana penuh cinta sehingga masalah apapun yang datang, ia akan pergi sendiri. Hal ini seperti selalu dikisahkan pada cerita-cerita lama, "Dan ia akan berlalu..."
Apa yang memberikan kestabilan ini?

Kita tentu pernah melihat menara yang menjulang tinggi ke langit, ia memiliki pondasi yang dalam. Begitu pula kita, kita harus mempunyai pondasi ke dalam yang kuat. Hal ini akan membuat kita kuat sehingga meskipun dunia berubah-ubah, kita tetap stabil.

Kekuatan ini datang dari dalam, dari jati diri kita yang di dalam. Jika motif tindakan kita adalah suci dan positif serta didasarkan pada cinta dan kebenaran, kekuatan kedamaian akan dengan sendirinya muncul.

Kebenaran adalah lebih dari sekedar informasi yang kita pikir, bicarakan dan tuliskan. Ia adalah kekuatan untuk tetap diam dan damai. Bahkan berpikirpun tidak. Juga tidak mendengarkan.
Tetapi kita memegangi inti dari jati diri kita, yaitu sifat-sifat manusiawi kita supaya tetap berada di dalam intelek dan kesadaran kita. Menerima apapun yang terjadi, baik di dalam maupun di luar, bagaikan samudera menerima aliran sungai, maka akan timbul rasa damai.

Sebenarnya kekuatan untuk tetap berada dalam rasa damai sudah ada dalam diri kita.

Sekarang saya tengah berbicara, tetapi di dalam, saya tetap merasa damai. Seluruh napas, pikiran dan waktu saya harus terisi dengan kedamaian dan kestabilan sehingga siapa pun yang datang mereka akan menemui saya dalam keadaan senang hati untuk membantu. Sauasana damai akan muncul. Hal ini sangat bermanfaat bagi diri saya sendiri.

Kita tidak perlu selalu mengingat atau berbicara tentang kejadian-kejadian menyedihkan yang terjadi di masa lampau. Demikian pula tidak ada gunanya untuk menyebarkan berita-berita sedemikian rupa sehingga akan menimbulkan rasa takut dan tegang. Kalau saya merasa takut, saya tidak akan bisa lagi melakukan appaun yang bermanfaat.

Dadi Janki


EmoticonEmoticon